WELCOME

WELCOME

Selasa, 06 Januari 2015

Hari Terakhir Bersama Mama

Selasa, tanggal 16 Desember 2014 adalah hari bersejarah bagi aku dan keluargaku. Hari yang benar benar tidak bisa dilupakan, hari terakhir mama melihat indahnya dunia dan hari terakhir juga mama menghembuskan nafasnya.

Sudah 10 hari mama dirawat di rumah sakit karena penyakit lambung yang sudah akut. Untungnya saat itu aku sedang UTS sehingga banyak waktu kosong yang diberikan oleh kampusku untuk belajar. Di rumah sakit hanya aku yang menjaga mama karena kakak harus bekerja dan adikku masih harus sekolah, aku pikir aku bisa menjaga mama sendiri tanpa harus papa pulang ke Bogor. Papa memang tidak bekerja di Bogor, papa ditempatkan dinas diluar kota yaitu di Singkawang. Hampir tiap 3 bulan sekali papa pulang ke Bogor.

Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa menjaga dan merawat mama tanpa harus merepotkan papa. Tetapi keyakinanku perlahan berubah, hatiku mengatakan aku tidak sanggup untuk menghadapi semuanya. Dokter yang menangani mama mengatakan bahwa mama sudah terkena infeksi saluran kantung kemih dan jika tidak dibawa secepatnya ke salah satu rumah sakit pusat dijakarta mama bisa cuci darah tiap bulan sekali. Ucapan dokter membuat aku terdiam dan tidak tahu lagi harus berkata apa.  Untungnya tepat hari itu papa pulang sehingga aku tidak harus merasa sendiri lagi.

Rabu malam kondisi mama semakin lemas dan mengharuskan mama dibawa ke ruang ICU. Aku pikir ketika mama dirawat di ruang ICU mama akan lebih mudah sembuh dan kita juga bisa lebih cepat membawa mama ke rumah sakit di Jakarta. Ternyata pemikiranku meleset jauh, detak jantung, tensi, dan pernapasan mama terlalu tinggi. Mesin pengukur pun terus berbunyi seakan memberikan pertanda bahaya untuk mama. Pikiranku mulai kacau, tak henti hentinya aku berdoa memohon kepada yang Kuasa untuk memberikan keajaiban pada seorang wanita yang sudah banyak berjasa untuk keluarganya.

Tuhan seakan mendengar doa ku dan mengabulkannya. Keesokan pagi, detak jantung, tensi dan pernapasan mama mulai normal dan mama bisa berbicara normal layaknya orang sehat. Aku bahagia, tak henti hentinya aku bersyukur atas perubahan mama. Pikiranku tenang kembali, perubahan mama menjadi obat sedihku.

Kebahagiaanku berubah kembali, kebahagiaan yang hanya sesaat diberikan Tuhan kepada keluargaku. Detak jantung, tensi dan pernapasan mama tinggi kembali melebihi batas. Aku terus berdoa, aku buang jauh jauh pikiran burukku tentang apa yang akan terjadi pada mama. Tangisanku mungkin tidak akan membantu mama sembuh tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaan sedihku. Tak henti- hentinya aku berbisik di telinga mama bahwa mama kuat dan mama harus sembuh. Hanya doa yang bisa aku ucapkan untu kesembuhan mama.


Keesokan paginya, pukul setengah 6 papa menelpon kakak mama menyuruh kami agar ke rumah sakit dengan segera karena keadaan mama sudah sangat kritis. Setibanya di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa detak jantung dan pernapasan mama sudah berhenti dan sedang diusahakan kembali menggunakan alat. Tak lama kemudian, angka angka itu kembali bermunculan walaupun hilang timbul. Pikiranku masih belum tenang hingga semuanya normal kembali. Semua keluarga mama dan papa berkumpul dan ikut mendoakan mama agar diberikan keajaiban kembali. Namun, Tuhan berkehendak lain dan memanggil mama agar kembali lagi padaNya. Aku tidak sanggup mendengarnya dan hanya bisa terduduk mendengar semua perkataan dokter. Aku belum percaya atas semua yang terjadi, aku juga belum percaya mama akan meninggalkan dunia untuk selamanya.

Ternyata dadah yang mama berikan pada aku dan keluargaku saat kami melihat mama dari jendela adalah ucapan selamat tinggal untuk selamanya. Terima kasih mama sudah menjadi semangat hidup aku dari aku lahir hingga sekarang, tetaplah menjadi penyemangat hidupku untuk selamanya. Sangat sulit untuk melupakan mama karena apapun yang aku lakukan dan apapun yang aku lihat semuanya selalu berhubungan dengan mama. Tak kenal waktu dan tempat, air mataku bisa saja menetes saat aku merindukan mama. I love you, ma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar